Dalam beberapa tahun terakhir, Eropa mengalami serangkaian panas ekstrem yang membuat banyak orang merasa kekurangan udara. Sementara itu, negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Asia telah lama menghadapi masalah panas dan kelembaban yang parah. Namun, apakah Eropa segera akan mengalami revolusi pengkondisian udara?
Mengingat faktor global warming, permintaan pengkondisian udara semakin meningkat di seluruh dunia. Menurut International Energy Agency (IEA), sebanyak dua per tiga rumah tangga di Eropa akan memiliki pengkondisian udara pada tahun 2050. Namun, tidak semua orang setuju dengan rencana pengkondisian udara ini.
Politisi di beberapa negara, seperti Prancis, telah menggunakan pengkondisian udara sebagai senjata dalam perang budaya mereka. Mereka berjanji untuk memasang pengkondisian udara di sebagian besar rumah, tetapi banyak orang menilai bahwa ini hanya akan memberikan manfaat bagi mereka yang sudah kaya.
Mengingat fakta bahwa hanya sekitar 20 persen penduduk Eropa yang memiliki pengkondisian udara di rumahnya, konsumsi energi yang lebih tinggi akan membuat mereka rentan terhadap krisis energi. Bahkan, di Inggris, hanya 4 persen penduduk yang memiliki pengkondisian udara di rumahnya. Di sisi lain, Amerika Serikat telah lama menghadapi masalah panas yang parah, dengan lebih dari 90 persen rumah tangga yang memiliki pengkondisian udara.
Pengkondisian udara bukan hanya tentang kenyamanan, tetapi juga tentang produktivitas dan keselamatan. Banyak orang yang mengalami kesulitan tidur karena panas yang berlebihan, dan pengkondisian udara dapat membantu mereka mendapatkan tidur yang lebih nyenyak. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengkondisian udara dapat mencegah hingga 200.000 kematian prematur di kalangan orang tua pada tahun 2019.