Bulan depan, Laos akan menyelenggarakan konferensi tahunan konvensi tentang senjata cluster di Vientiane, ibu kota negara ini. Namun, konferensi yang diharapkan menjadi kesempatan besar bagi Laos untuk mengevaluasi kemajuan dalam mengatasi ancaman sisa-sisa peperangan di era lalu masih diwarnai dengan kekhawatiran yang menghantuinya.
Saat tim-tim untuk menghancurkan amunisi yang terlantar berjalan di ladang, hutan, dan padang rumput pedesaan, Laos masih menghadapi ancaman sisa-sisa peperangan yang terakhir. Data dari Program Pembangunan Pertahanan (Mine Action Programme) Departemen Pertahanan Laos mencatat bahwa pada tahun 2022, ada 76 kasus luka-luka akibat ledakan bom yang terlantar, meningkat 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peringatan ini terus menghantui warga di desa-desa kecil di seluruh Laos, yang masih mengalami trauma akibat peperangan di era lalu. Sisa-sisa peperangan ini berupa bom-bom yang tidak meledak, termasuk bom cluster, yang dipercayai telah meninggalkan jejak kematian dan luka-luka yang mengerikan di negara tersebut.
Menurut data yang dipublikasikan oleh Program Pembangunan Pertahanan Laos, hingga bulan Desember tahun lalu, ditemukan sekitar 3,3 juta unit senjata terlantar, termasuk 1,7 juta unit bom cluster. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa tahun ke depan, terutama di wilayah-wilayah terdepan.
Sementara itu, konferensi tahunan konvensi tentang senjata cluster diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi Laos untuk mengevaluasi kemajuan dalam mengatasi ancaman sisa-sisa peperangan. Dengan demikian, Laos dapat memperoleh dukungan dan sumber daya yang lebih banyak untuk menyelesaikan masalah ini.
Peringatan tentang ancaman sisa-sisa peperangan di era lalu di Laos masih terus menghantui warga negara ini. Namun, dengan dukungan internasional dan sumber daya yang cukup, Laos dapat mengatasi ancaman ini dan memulai proses rehabilitasi.