Rupiah terus melemah, mencapai level Rp 18.014 per dolar AS. Salah satu sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah data cadangan devisa yang dirilis oleh Bank Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih tergolong rendah, hanya mencapai sekitar 3,5% dari total produksi nasional pada tahun 2022.
Hal ini membuat investor khawatir tentang kemampuan Indonesia untuk menghadapi krisis keuangan global yang semakin meningkat. Karena itu, mereka mulai menjual rupiah dan membeli dolar AS, sehingga nilai rupiah terus menurun.
Pergerakan rupiah ini juga dipengaruhi oleh sentimen global, seperti perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga di AS membuat investor memilih untuk membeli instrumen keuangan yang lebih stabil, seperti obligasi AS, daripada investasi di Indonesia.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tergolong rendah juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat ditingkatkan, maka nilai rupiah akan terus menurun.
Bank Indonesia telah memantau pergerakan rupiah dan berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, perlu waktu dan upaya yang kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatkan nilai rupiah.