Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya membangun optimisme setelah ditutup menguat 1,19 persen menjadi 5.986. Meskipun demikian, sentiment positif tersebut masih terganjal oleh defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 yang makin besar.
Data kinerja IHSG pada hari terakhir minggu ini menunjukkan bahwa indeks tersebut berhasil melonjak di atas level Moving Average (MA) 20 hari. Sementara itu, indikator Market and Customer Data (MACD) masih menunjukkan minat beli, namun beberapa sentimen negatif masih berpotensi memicu profit taking.
Menurut analisis, IHSG berpotensi bergerak mixed pada kisaran 5.900-6.000. Hal ini disebabkan oleh peningkatan moderat pada cadangan devisa Indonesia pada bulan Juni 2026. Cadangan devisa tersebut naik menjadi USD145,6 miliar dari Mei 2026 di posisi USD144,9 miliar.
Peningkatan tersebut didukung oleh penerimaan pajak dan jasa yang lebih dari cukup untuk mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah-langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia. Namun, defisit APBN 2026 yang diproyeksi mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen dari PDB, lebih tinggi dibanding target Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Menteri Keuangan, Purbaya, memproyeksi defisit APBN 2026 lebih lebar dari target. Belanja negara diproyeksi mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN. Proyeksi defisit APBN lebih lebar dari target itu, berpotensi menjadi sentimen negatif.
Berdasarkan data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut, yaitu HM Sampoerna (HMSP), Charoen Pokphand (CPIN), Pertamina Geothermal Energy (PGEO), Semen Indonesia alias SIG (SMGR), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).