Konjen Filipina di Hong Kong sedang menyelidiki laporan bahwa pekerja rumah tangga Filipina dipekerjakan sebagai ibu angkat untuk pasangan dari Asia Tengah dengan upah hingga 1 juta peso (US$16,220). Setidaknya lima pekerja rumah tangga Filipina yang direkrut di Hong Kong mengaku tidak dibayar dengan jumlah yang dijanjikan meskipun mereka telah mengandung bayi sampai lahir, salah satu perempuan diberitahu bahwa bayi yang dilahirkan dari proses surrogasi memiliki 'cacat'.
Menurut Konjen Filipina, mereka sedang menyelidiki laporan tersebut dan telah menghubungi pekerja rumah tangga Filipina yang terlibat. Pekerja rumah tangga Filipina yang terlibat ini mengaku bahwa mereka dijanjikan uang yang besar untuk menjadi ibu angkat, tapi tidak dibayar dengan jumlah yang dijanjikan.
Situs web konjen Filipina mengatakan bahwa mereka telah menerima laporan dari beberapa pekerja rumah tangga Filipina yang mengaku diminta menjadi ibu angkat untuk pasangan dari Asia Tengah. Konjen Filipina juga mengatakan bahwa mereka telah menghubungi pihak berwenang di Hong Kong untuk membantu menyelidiki kasus ini.
Perempuan-perempuan dari Filipina yang menjadi ibu angkat ini memiliki hak untuk mendapatkan perawatan yang baik dan dibayar dengan sebaiknya. Namun, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak perempuan dari Filipina yang menjadi korban eksploitasi di luar negeri.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa perlu adanya peraturan yang lebih ketat untuk melindungi pekerja rumah tangga Filipina yang bekerja di luar negeri. Pemerintah Filipina harus bekerja sama dengan pemerintah Hong Kong untuk membantu menyelidiki kasus ini dan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi pekerja rumah tangga Filipina.