JAKARTA, investor.id – Kalangan ahli memperkirakan fase terburuk pasar saham Indonesia, dalam hal ini indeks harga saham gabungan (IHSG), telah berakhir. Investor pun mulai melihat peluang akumulasi saham, apalagi harga sedang murah.
Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi dan tim mengungkapkan, ada beberapa perkembangan yang mendukung pandangan bahwa tekanan terbesar terhadap pasar saham Indonesia kemungkinan telah berlalu.
Pertama, nilai tukar rupiah – yang secara historis hampir selalu menjadi prasyarat sebelum IHSG mencapai titik terendah – telah menguat dari level di atas Rp 18.200 per dolar AS menjadi di bawah Rp 18.000 per dolar AS.
“Penguatan rupiah didorong oleh respons kebijakan yang makin tegas dari Bank Indonesia (BI),” tulis Prasetya dan tim dalam risetnya, yang dikutip pada Minggu (14/6/2026).
Dalam waktu satu bulan, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps), termasuk kenaikan mendadak sebesar 25 bps pada 9 Juni menjadi 5,5%.
Kedua, penguatan rupiah berpotensi berlanjut apabila aturan baru soal tata kelola ekspor sumber daya alam, seperti batu bara, CPO, dan ferro alloy mampu mengurangi praktik under-invoicing (pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya), sehingga dapat meningkatkan arus masuk devisa dolar AS ke Indonesia.
Ketiga, dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rasionalisasi anggaran koperasi desa berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Keempat, untuk pertama kalinya sejak 20 Mei, pasar saham Indonesia kembali mencatat arus masuk dana asing bersih (net foreign inflow) sebesar Rp 287 miliar atau sekitar US$ 16 juta pada 12 Juni.
“Kondisi tersebut berpotensi memberikan tambahan sentimen positif terhadap rupiah,” sebut Prasetya.