EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami peningkatan signifikan pada perdagangan kemarin, dengan harga tutup sebesar 6.195, meningkat 1,11 persen dari sebelumnya. Rupiah juga menguat, dengan harga Rp17.830 per dolar Amerika Serikat, meningkat 0,2 persen.
Analisis teknis menunjukkan bahwa IHSG masih berada di atas level sederhana rata-rata 5 (MA5), dan histogram negatif MACD masih dalam proses penyempitan, sementara Stochastic RSI juga mengarah ke area pivot. Dengan demikian, diperkirakan IHSG akan terus meningkat, dengan target harga 6.220-6.280.
Inflasi tahunan edisi Mei 2026 meningkat menjadi 3,08 persen YoY, dari sebelumnya sekitar 2,42 persen YoY. Kenaikan harga makanan mencapai 4,94 persen, didorong oleh kenaikan biaya bahan pokok dan distribusi. Inflasi inti juga meningkat, menjadi 2,59 persen YoY.
Namun, jika inflasi terus meningkat dan rupiah terus mengalami devaluasi, maka diperkirakan Bank Indonesia (BI) akan meningkatkan BI Rate. Sementara itu, indeks PMI manufaktur naik menjadi 50 pada Mei 2026, dari level terendah sebelumnya di April 2026. Indikator ini menunjukkan bahwa kondisi pabrik relatif stabil.
Namun, pesanan baru meningkat selama dua bulan berturut-turut, namun pesanan ekspor turun karena gangguan konflik Timur Tengah. Surplus neraca perdagangan Indonesia berkurang menjadi USD0,09 miliar edisi April 2026, dari sebelumnya senilai USD3,32 miliar.
Hasil itu merupakan surplus perdagangan terkecil sejak April 2020, disebabkan oleh kenaikan impor 22,5 persen YoY, dengan peningkatan impor migas 85,52 persen, serta impor non migas tumbuh 14,11 persen. Sedangkan ekspor meningkat 21,98 persen edisi April 2026, pulih dari koreksi 3,1 persen periode Maret 2026.
Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk mengoleksi saham Alfamart (AMRT), Energi (ENRG), SIG (SMGR), Superbank (SUPA), dan Surya (SCMA). (*)