Perang Iran dengan barisan musuhnya telah berakhir secara resmi, tapi persoalan terbesar belum terpecahkan. Masalahnya tidak lagi tentang bagaimana Iran bisa diatasi atau apakah Laut Hormuz tetap terbuka. Pertanyaan besar menjadi siapa yang akan menulis aturan di Timur Tengah setelah ledakan itu.
Saat ini, tiga jalur utama sedang berkembang. Jalur pertama dikemudikan oleh Amerika Serikat, dengan ekspansi Perjanjian Abraham Accords, integrasi Israel, dan hubungan strategis dengan negara-negara lain di wilayah tersebut.
Jalur kedua dipimpin oleh Arab Saudi dengan tujuan utama memperkuat kekuatan dan pengaruhnya di wilayah tersebut. Dengan demikian, Arab Saudi berharap bisa meningkatkan kemampuan untuk melawan ancaman Iran.
Jalur ketiga dipimpin oleh Uni Emirat Arab, yang berharap bisa mengembangkan diri sebagai negara pemimpin di wilayah Timur Tengah.
Bagaimana jalur-jalur ini berkembang akan menentukan masa depan Timur Tengah. Siapa yang akan menjadi pemimpin baru? Amerika Serikat, Arab Saudi, atau Uni Emirat Arab? Jawabannya akan menentukan bagaimana aturan dimainkan di wilayah tersebut.
Para ahli dan analis politik memperkirakan bahwa jalur-jalur ini akan terus berkembang dan akan menentukan keamanan dan kestabilan di wilayah Timur Tengah.