Minat terhadap emas terus meningkat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Bank-bank sentral dan investor di China berbondong-bondong mengalihkan dana ke instrumen berbasis logam mulia tersebut.
Dikutip dari laporan terbaru World Gold Council (WGC), bank-bank sentral membeli bersih 41 ton emas pada Mei 2026, menjadi pembelian bulanan terbesar kedua sepanjang tahun ini setelah Februari.
Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 18 ton emas, disusul China yang membeli 10 ton, sekaligus menjadi pembelian bulanan terbesar negara tersebut sejak Desember 2024.
Survei tahunan WGC juga menunjukkan optimisme yang semakin besar terhadap prospek emas. Sebanyak 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Demam emas juga terlihat di pasar keuangan China. Dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) berbasis emas, Huaan Yifu Gold ETF, kini menjadi ETF terbesar di China dengan nilai aset sekitar 90 miliar yuan.
Posisi tersebut menggeser Huatai-PineBridge CSI 300 ETF, yang selama bertahun-tahun menjadi ETF saham terbesar di negara itu.
Preferensi investor berubah, dan emas menjadi aset lindung nilai yang semakin populer.