Pada bulan Oktober lalu, seorang petinggi pemerintah Nigeria, Femi Gbajabiamila, menulis surat kepada polisi setelah menemukan bahwa tanda tangan dan cap resmi presiden telah disalahgunakan oleh Adeniyi Adeyemi Matthew, yang menyatakan dirinya sebagai kepala presiden Dewan Promosi Intervensi Luar Negeri (PFIPC) yang tidak ada.
Melansir sumber yang terpercaya, PFIPC ini bahkan telah diberikan dana sebesar 1,3 miliar naira dalam anggaran 2027 yang membuat banyak orang menuding korupsi di tingkat tinggi.
Peristiwa ini menimbulkan kontroversi besar di tengah laga pemilu yang rencananya akan berlangsung pada bulan Januari mendatang, segera setelah Pemilu Presiden 2027.
Presiden Nigeria pun memerintahkan segera dilakukannya penyelidikan untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab atas pembuatan biro palsu ini.
Peristiwa ini menandai semakin meningkatnya ketegangan politik di Afrika Utara terbesar ini, yang membuat banyak orang berharap Pemilu 2027 berjalan dengan lancar dan adil.