Di tengah-tengah industri ternak yang semakin mendapat tekanan untuk mengatasi dampak lingkungan, para ilmuwan dan perusahaan mulai mengembangkan teknologi unik untuk mengatasi polusi limbah ternak. Salah satu contoh adalah sistem vermifiltrasi yang menggunakan cacing tanah dan mikroba untuk membersihkan limbah ternak. Sistem ini telah terbukti dapat mengurangi emisi metana, oksida nitrat, dan polusi air.
Anthony Agueda, peternak sapi California generasi ketiga, menarik tumpukan kayu kering basah untuk menemukan beberapa cacing tanah merah yang aktif. Diperkirakan ada ratusan ribu cacing tanah lainnya yang bergerak di bawah permukaan. Cacing tanah dan mikroba ini adalah bagian dari sistem vermifiltrasi yang membersihkan limbah ternak. Sistem ini mungkin dapat mengurangi polusi limbah ternak secara signifikan.
Geoengineering, atau teknologi untuk mengubah suhu bumi secara sengaja, mulai menghadapi kenyataan. Peneliti sedang bekerja pada sistem pesawat, material, dan lain-lain untuk membuat geoengineering menjadi kenyataan. Namun, mereka menemukan bahwa bahkan penggunaan awal geoengineering memerlukan infrastruktur baru, waktu, dan investasi yang signifikan.
Di sisi lain, AI yang dikembangkan oleh OpenAI, GPT 5.6, telah mendapatkan izin untuk dikembangkan lebih lanjut setelah melakukan uji coba tambahan dan pertemuan dengan pemerintah Trump. Namun, masih ada perdebatan tentang apakah AI terlalu pintar dan berbahaya.
China juga sedang mempertimbangkan untuk membatasi akses luar negeri ke AI model teratas mereka, Alibaba, ByteDance, dan Z.ai telah hadir dalam pertemuan untuk membahas rencana ini.
Geoengineering, AI, dan teknologi canggih lainnya sedang menghadapi tantangan dan perdebatan. Apakah kita siap untuk menghadapi kenyataan yang sedang berkembang?