Bisnis

Prabowo: BUMN Pertahanan Nyaris Dijual, Negara Terselamatkan

Sebuah pengakuan mengejutkan datang langsung dari Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Dengan nada tegas, ia mengungkapkan sebuah momen krusial ketika beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertahanan, yang merupakan pilar vital bagi kedaulatan bangsa, nyaris berpindah tangan ke pihak asing. Sebuah manuver penyelamatan yang kini terungkap ke publik, melibatkan nama-nama besar seperti PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), aset-aset yang menjadi tulang punggung kekuatan militer dan kemandirian teknologi negeri ini.

Kisah ini jauh dari sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan menyentuh inti dari kemandirian pertahanan Indonesia. PT PAL Indonesia, yang berlokasi di Surabaya, adalah produsen kapal perang dan kapal niaga yang tangguh. Sementara itu, PT Pindad yang berbasis di Bandung, merupakan garda terdepan dalam produksi senjata dan kendaraan tempur darat. Tidak ketinggalan, PTDI adalah pionir dalam industri kedirgantaraan nasional, merakit pesawat dan helikopter yang krusial. Ketiga entitas ini adalah pilar-pilar penting yang mendukung visi Indonesia untuk memiliki sistem pertahanan yang kuat dan tidak bergantung pada pasokan luar negeri. Pelepasan kepemilikan mereka ke entitas asing berpotensi besar mengancam kontrol strategis negara atas kemampuan pertahanannya sendiri, mengikis fondasi kemandirian yang telah lama diperjuangkan.

Prabowo menjelaskan bahwa langkah intervensi untuk mencegah penjualan tersebut diambil di saat-saat yang sangat kritis, tepat sebelum potensi penjualan tersebut dapat berujung pada hilangnya kendali negara atas teknologi dan jalur produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Bayangkan implikasinya jika keputusan vital terkait pertahanan nasional harus melalui persetujuan pihak non-negara atau bahkan entitas asing. Ini bukan hanya soal potensi kerugian finansial, tetapi juga risiko kebocoran teknologi sensitif, pembatasan produksi yang merugikan, hingga ketergantungan yang masif dan menggerus kedaulatan. Tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Prabowo ini secara jelas menggarisbawahi komitmen kuat terhadap pengamanan aset strategis demi kepentingan keamanan nasional jangka panjang.

Insiden ini juga menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya revitalisasi dan penguatan BUMN pertahanan di Indonesia. Alih-alih menjual aset-aset berharga, fokus utama seharusnya adalah peningkatan kapasitas produksi, mendorong inovasi teknologi mutakhir, dan ekspansi pasar agar PT PAL, Pindad, dan PTDI dapat bersaing secara global sekaligus memenuhi kebutuhan domestik yang terus berkembang. Visi Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam bidang pertahanan secara fundamental memerlukan BUMN yang sehat, kuat, dan berada di bawah kendali penuh negara, mampu berinovasi serta memenuhi standar internasional tanpa intervensi asing yang dapat merugikan kepentingan nasional.

Penyelamatan aset-aset vital ini oleh Prabowo Subianto bukan hanya sekadar tindakan sporadis yang terjadi sekali, melainkan sebuah pernyataan tegas mengenai arah kebijakan pertahanan Indonesia ke depan. Ini adalah cerminan dari tekad untuk menjaga martabat bangsa, memastikan kemandirian strategis dalam menghadapi tantangan geopolitik, dan membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan pertahanan nasional yang lebih kuat, tangguh, dan berdaulat. Sebuah langkah yang patut dicermati sebagai indikator komitmen berkelanjutan terhadap penguatan kemandirian industri pertahanan Indonesia.