Nasional

Lebanon, Pilar Doktrin Pertahanan Asimetris Iran yang Mengancam Israel

Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon, meski Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 telah membuka kembali Selat Hormuz tanpa tarif selama enam puluh hari dan menghentikan blokade laut.

Tapi, apa yang terjadi pada 19 Juni, ketika gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah diumumkan? Pasukan Israel masih menyerang dan menahan, seperti tidak ada perjanjian apa-apa.

Bahkan lebih ekstrem lagi, setelah MoU tersebut, pasukan Israel bahkan menambahkan intensitas serangannya, seperti membalas dendam melawan Hizbullah yang dikatakan sebagai pilar doktrin pertahanan asimetris Iran. Doktrin ini tidak pernah berhasil menumbangkan Israel, tapi mengapa Israel masih berusaha menyerang?

Apakah ini tanda-tanda perang baru? Ataukah ini hanya serangan balasan Israel untuk membalas dendam? Jawabannya masih belum jelas, tapi satu hal yang pasti, Lebanon saat ini menjadi sorotan dunia.

Nota Kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026, setidaknya menurut teksnya, mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz tanpa tarif selama enam puluh hari, serta menghentikan blokade laut. Namun, seolah-olah MoU tersebut tidak berlaku untuk Israel, pasukan Israel tetap menyerang dan menahan.

Bahkan keputusan ini menimbulkan pertanyaan, apakah MoU tersebut hanya untuk menghalangi perlawanan Iran terhadap AS, ataukah ini juga untuk menyebarluaskan ketakutan Israel terhadap kehadiran Iran di Lebanon?

Lebanon saat ini menjadi pusat perhatian dunia, karena MoU AS-Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 tidak berlaku untuk Israel. Apakah ini tanda-tanda perang baru? Ataukah ini hanya serangan balasan Israel untuk membalas dendam? Jawabannya masih belum jelas, tapi satu hal yang pasti, Lebanon saat ini menjadi sorotan dunia.