Kuba terus menghadapi krisis energi setelah presiden AS Donald Trump mengecualikan negara Caribbean ini dari penggunaan bahan bakar Amerika, menyebabkan tekanan signifikan pada sumber daya listrik negara tersebut.
Pemadaman listrik total kedua kalinya dalam sepekan tercatat di Kuba, menimpa lebih dari 11 juta penduduk. Sumber-sumber setempat mengatakan bahwa pemadaman listrik ini disebabkan oleh tekanan ekstrem pada sumber daya listrik nasional.
Pemerintah Kuba telah mencoba mengatasi krisis energi dengan membangun sumber daya listrik alternatif, tetapi kebijakan Trump yang mengecualikan negara tersebut dari penggunaan bahan bakar Amerika telah membuat upaya ini semakin sulit.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel telah mengecam kebijakan Trump, menyebutnya sebagai 'bantuan' yang 'bukan bantuan' dan 'bukan kebijakan yang bijak'. Ia menegaskan bahwa Kuba akan terus menolak kebijakan yang tidak pantas dan tidak adil.
Krisis energi di Kuba terus berlanjut, dan pemadaman listrik total kedua kalinya dalam sepekan telah menimpa lebih dari 11 juta penduduk. Perluasan kebijakan Trump terhadap Kuba hanya akan membuat situasi semakin buruk.