Hungaria terkejut ketika siaran berita publik utama negara itu terhenti secara tiba-tiba. Pagi Senin, saluran TV nasional menampilkan pesan "maaf" karena telah berbohong pada hari Selasa lalu.
Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah Hungaria untuk menghentikan propaganda yang telah berlangsung selama pemerintahan era Orban. Presiden Joko Widodo tidak akan pernah menginginkan hal seperti ini terjadi dengan media nasional Indonesia.
Para kritikus menuduh pemerintah Hungaria telah menggunakan media publik untuk memenangkan dukungan publik dan mempromosikan agenda pribadi. Mereka juga mengklaim bahwa keputusan ini adalah langkah awal untuk mengembalikan kebebasan pers di negara itu.
Saat ini, pemerintah Hungaria masih mempertahankan bahwa keputusan ini adalah untuk meningkatkan kejujuran dan keberpihakan terhadap masyarakat. Namun, masyarakat Hungaria tetap mengharapkan kebebasan pers yang lebih besar.
Apakah keputusan ini akan memiliki dampak pada kebebasan pers di Hungaria? Hanya waktu yang akan memberi jawaban.