Di tengah gema Piala Dunia 2026, sebuah kisah lain bergulir di Gaza. Kegembiraan rakyat dunia memandang ke arah stadion, tapi di Gaza, tragedi kemanusiaan meluapkan air mata. Seperti apa cerita duka ini?
Alaa Shamali, seorang jurnalis dan warga Gaza, melihat langsung bagaimana tragedi Gaza berkontras dengan kegembiraan Piala Dunia. 'Saat miliaran penggemar sepak bola di seluruh dunia menyaksikan pertandingan ke-1000 Piala Dunia, saya berada di Gaza, menghadapi musibah yang tak terbayangkan,' kata Alaa.
Di Gaza, kehidupan berjalan seperti biasa, tapi dengan latar belakang perasaan yang berbeda. Mereka tidak bisa menikmati kegembiraan Piala Dunia, karena perang dan ketidakpastian masih menghantui mereka. 'Kami tidak bisa menikmati momen bahagia, karena kami masih harus berjuang untuk bertahan hidup,' kata Alaa.
Tragedi Gaza bukan sekadar kisah duka, tapi juga tentang kekecewaan dan keputusasaan. Mereka melihat bagaimana dunia terutama Barat, terus melakukan penindasan dan penyalahgunaan hak asasi manusia di Gaza. 'Kami tidak pernah melupakan tragedi kami, kami akan terus mengingatnya, dan kami akan terus berjuang untuk keadilan,' kata Alaa.
Kisah Alaa dan rakyat Gaza bukanlah kisah yang unik, tapi merupakan bagian dari sejarah yang panjang dan berdarah. Mereka telah kehilangan banyak, tapi mereka tidak pernah kehilangan semangat untuk bertahan hidup dan berjuang untuk kebebasan.
Di tengah kegembiraan Piala Dunia, kita harus ingat bahwa ada kisah lain yang sedang bergulir di Gaza. Kita harus ingat bahwa ada rakyat yang masih bergelut dengan kehidupan, yang masih berjuang untuk bertahan hidup.
Kita harus ingat bahwa ada keadilan yang harus diperjuangkan, ada kebebasan yang harus dicapai. Jangan biarkan kisah duka di Gaza terlupakan, jangan biarkan keadilan terus ditindas.
Sekarang, saatnya kita untuk berbicara tentang keadilan, berbicara tentang kebebasan, dan berbicara tentang kegembiraan yang sebenarnya.
Penutup